Rabu, 30 Januari 2013

JICY'S STORY

Diposting oleh Unknown di 19.45
My Lonely Cake
                Pohon itu adalah pohon yang penuh dengan kenangan dan angan-angan. Daunnya adalah sebuah harapan dan impian yang kini telah terwujud. Namun, bunganya telah gugur mendahului Sang Bayu yang berhembus. Di sana, dulu kami selalu tertawa bersama, bercerita, menulis, membaca, bahkan menangis bersama-sama.
            Dia…
            Dialah orang pertama yang selalu tahu apa yang sedang kurasakan, aku sedang jatuh cinta, bersedih, bahagia , kagum dengan sesuatu, dan hal-hal lainnya yang tidak nyata dariku yang tiba-tiba terungkap.
Hingga pada suatu hari aku terkejut, bukan karena hal baru yang ada, tetapi pada kenyataan dalam setiap nafas yang kuhembus. Ketika itu aku terbangun dari tidurku dan seperti biasa aku selalu mendenganr suara lonceng berbunyi. Lonceng misterius di atap rumahku.
            Namaku Jingga Inayata dan ini sahabatku Cerry Ulviatin Na’imah. Kami sangat dekat, hingga tak ada satu hal pun yang akan memisahkan kami. Diantara banyak hal yang kami lakukan, hal yang paling kami sukai adalah duduk di bawah pohon rindang, sambil melukiskan imajinasi kami di awan-awan yang tebal di atas langit biru itu. Pohon ini adalah saksi dari semua hal yang pernah kami lakukan bersama. Hingga suatu hari tercetus ide segar yang fantastis dan aneh yang belum pernah kami lakukan, yaitu menjual sesuatu buatan kami sendiri. Mula-mula kami bingung apa yang harus kami jual, tapi pada suatu hari kami melihat seorang wanita sedang duduk di sebuah bangku dengan menikmati sebuah cup cake coklat yang terlihat sangat lezat. Dari situ tercetuslah ide kami untuk membuat cupcake “JiCiy” singkatan dari Jingga dan Cerry.
            Ternyata JiCiy buatan kami laku keras. Kami menjualnya di kantin, kelas-kelas sekolah kami, bahkan ruang guru. Mereka semua menyukai JiCiy, karena menurut mereka cup cake kami rasanya berbeda dangan cup cake lainnya, seperti yang dikatakan salah satu dari bapak guru kami, Pak Libas namanya “cup cake kalian rasanya  unik sekali, saya jadi pengen tambah lagi”. Kamipun sangat senang mendapat pujian seperti itu, kami jadi tambah bersemangat untuk menjual JiCiy ciptaan kami.
            Namun suatu hari sesuatu yang tak kuinginkan terjadi, mendung itu datang, dan bunga jatuh bertebaran mengiringi angin yang sedang berhembus. Sore itu aku mendapatkan telfon dari mamanya Cerry, beliau mengatakan bahwa Cerry tidak bisa lagi melanjutkan sekolah bersamaku dan harus pindah di sekolah lain. Seketika aku merasa ada beban berat di kepalaku, aku bingung, linglung dan dadaku terasa sangat sesak. Aku tak menyangka, kenapa ini semua sangat mendadak dan misterius. Saat aku bertanya kenapa Cerry harus pindah, mamanya hanya menjawab bahwa Cerry harus pindah sekolah karena papahnya juga dipindahtugaskan di luar kota. Namun, sebelum aku bertanya lagi, telfon itu langsung ditutup, hanya bunyi tit…tit..tit.. yang terdengar dari seberang.
            Dua minggu kemudian….
            Aku bangun tidur, namun pagi ini aneh rasanya, sebenarnya bukan hanya pagi ini, tetapi semenjak mama Cerry menelfonku dua minggu yang lalu. Lonceng itu tidak berbunyi lagi, aku berharap lonceng itu akan berbunyi lagi, tapi ternyata itu hanyalah harapan kosong semata.
            Tapi, aku masih tetap berusaha untuk menjalankan aktivitasku seperti biasanya, salah satunya adalah aku tetap menjual cupcake JiCiy ku. Walaupun aku sekarang sendiri tanpa Cerry. Kata orang-orang JiCiy ku tetap enak, jadi pelangganku tak berkurang, malah sekarang bertambah lebih banyak.
            Sebenarnya dalam lubuk hatiku yang paling dalam aku sangat merindukan Cerry. Kadang aku menangis sendiri di bawah pohon sambil mengenang masa-masa ketika aku bersama Cerry. Suatu hari, terbersit dalam fikiranku untuk mencari tahu informasi tentang Cerry.
            Setelah beberapa bulan……
            Usahaku selama ini membuahkan hasil, aku mendapatkan informasi tentang keberadaan Cerry, anehnya nara sumber yang merupakan pembantu lama Cerry, pak Huda namanya, berkata bahwa Cerry sekarang tinggal aman dan damai di  sisi Tuhan, Sang Maha Pengasih. Kemudian dia memberiku secarik kertas yang berisi alamat kakak Cerry yang bertempat tinggal beberapa blok dari rumahku.
            Disanalah air mataku mulai memancar, aku merasa kehidupanku mulai redup, angankupun goyah, karena saat itu aku tahu apa maksud ucapan pak Huda. Bahwa kini Cerryku hanyalah sebuah nama. Nama yang akan selalu menjadi kenangan dalam hidupku.
            Ternyata selama ini keluarga Cerry menyembunyikan rahasia besar dariku, yaitu rahasia tentang kematian Cerry. “Cerry kecelakaan di jalur tol, saat dia sedang berbelanja untuk bahan membuat cup cake bersamamu” kata kakak Cerry, dengan mata sedikit berkaca-kaca. Kemudian aku pergi ke makam Cerry dan mendo’akannya agar dia tenang di alam barunya.
            “Cer, namamu telah ku kenang dan ku abadikan di sini. Di bawah pohon ini kubuatkan bangunan indah yang akan menjadi tempat bisnis cup cake kita. Sekarang aku sendiri, tetapi itu hanya secara fisik, karena secara batin, bayanganmu akan selalu bersamaku, kenangan-kenangan yang pernah kita buat tidak akan dapat kulupakan dan sekarang cup cake JiCiy ini kuubah menjadi “Cerry Cake”.

0 komentar on "JICY'S STORY"

Posting Komentar

Rabu, 30 Januari 2013

JICY'S STORY

My Lonely Cake
                Pohon itu adalah pohon yang penuh dengan kenangan dan angan-angan. Daunnya adalah sebuah harapan dan impian yang kini telah terwujud. Namun, bunganya telah gugur mendahului Sang Bayu yang berhembus. Di sana, dulu kami selalu tertawa bersama, bercerita, menulis, membaca, bahkan menangis bersama-sama.
            Dia…
            Dialah orang pertama yang selalu tahu apa yang sedang kurasakan, aku sedang jatuh cinta, bersedih, bahagia , kagum dengan sesuatu, dan hal-hal lainnya yang tidak nyata dariku yang tiba-tiba terungkap.
Hingga pada suatu hari aku terkejut, bukan karena hal baru yang ada, tetapi pada kenyataan dalam setiap nafas yang kuhembus. Ketika itu aku terbangun dari tidurku dan seperti biasa aku selalu mendenganr suara lonceng berbunyi. Lonceng misterius di atap rumahku.
            Namaku Jingga Inayata dan ini sahabatku Cerry Ulviatin Na’imah. Kami sangat dekat, hingga tak ada satu hal pun yang akan memisahkan kami. Diantara banyak hal yang kami lakukan, hal yang paling kami sukai adalah duduk di bawah pohon rindang, sambil melukiskan imajinasi kami di awan-awan yang tebal di atas langit biru itu. Pohon ini adalah saksi dari semua hal yang pernah kami lakukan bersama. Hingga suatu hari tercetus ide segar yang fantastis dan aneh yang belum pernah kami lakukan, yaitu menjual sesuatu buatan kami sendiri. Mula-mula kami bingung apa yang harus kami jual, tapi pada suatu hari kami melihat seorang wanita sedang duduk di sebuah bangku dengan menikmati sebuah cup cake coklat yang terlihat sangat lezat. Dari situ tercetuslah ide kami untuk membuat cupcake “JiCiy” singkatan dari Jingga dan Cerry.
            Ternyata JiCiy buatan kami laku keras. Kami menjualnya di kantin, kelas-kelas sekolah kami, bahkan ruang guru. Mereka semua menyukai JiCiy, karena menurut mereka cup cake kami rasanya berbeda dangan cup cake lainnya, seperti yang dikatakan salah satu dari bapak guru kami, Pak Libas namanya “cup cake kalian rasanya  unik sekali, saya jadi pengen tambah lagi”. Kamipun sangat senang mendapat pujian seperti itu, kami jadi tambah bersemangat untuk menjual JiCiy ciptaan kami.
            Namun suatu hari sesuatu yang tak kuinginkan terjadi, mendung itu datang, dan bunga jatuh bertebaran mengiringi angin yang sedang berhembus. Sore itu aku mendapatkan telfon dari mamanya Cerry, beliau mengatakan bahwa Cerry tidak bisa lagi melanjutkan sekolah bersamaku dan harus pindah di sekolah lain. Seketika aku merasa ada beban berat di kepalaku, aku bingung, linglung dan dadaku terasa sangat sesak. Aku tak menyangka, kenapa ini semua sangat mendadak dan misterius. Saat aku bertanya kenapa Cerry harus pindah, mamanya hanya menjawab bahwa Cerry harus pindah sekolah karena papahnya juga dipindahtugaskan di luar kota. Namun, sebelum aku bertanya lagi, telfon itu langsung ditutup, hanya bunyi tit…tit..tit.. yang terdengar dari seberang.
            Dua minggu kemudian….
            Aku bangun tidur, namun pagi ini aneh rasanya, sebenarnya bukan hanya pagi ini, tetapi semenjak mama Cerry menelfonku dua minggu yang lalu. Lonceng itu tidak berbunyi lagi, aku berharap lonceng itu akan berbunyi lagi, tapi ternyata itu hanyalah harapan kosong semata.
            Tapi, aku masih tetap berusaha untuk menjalankan aktivitasku seperti biasanya, salah satunya adalah aku tetap menjual cupcake JiCiy ku. Walaupun aku sekarang sendiri tanpa Cerry. Kata orang-orang JiCiy ku tetap enak, jadi pelangganku tak berkurang, malah sekarang bertambah lebih banyak.
            Sebenarnya dalam lubuk hatiku yang paling dalam aku sangat merindukan Cerry. Kadang aku menangis sendiri di bawah pohon sambil mengenang masa-masa ketika aku bersama Cerry. Suatu hari, terbersit dalam fikiranku untuk mencari tahu informasi tentang Cerry.
            Setelah beberapa bulan……
            Usahaku selama ini membuahkan hasil, aku mendapatkan informasi tentang keberadaan Cerry, anehnya nara sumber yang merupakan pembantu lama Cerry, pak Huda namanya, berkata bahwa Cerry sekarang tinggal aman dan damai di  sisi Tuhan, Sang Maha Pengasih. Kemudian dia memberiku secarik kertas yang berisi alamat kakak Cerry yang bertempat tinggal beberapa blok dari rumahku.
            Disanalah air mataku mulai memancar, aku merasa kehidupanku mulai redup, angankupun goyah, karena saat itu aku tahu apa maksud ucapan pak Huda. Bahwa kini Cerryku hanyalah sebuah nama. Nama yang akan selalu menjadi kenangan dalam hidupku.
            Ternyata selama ini keluarga Cerry menyembunyikan rahasia besar dariku, yaitu rahasia tentang kematian Cerry. “Cerry kecelakaan di jalur tol, saat dia sedang berbelanja untuk bahan membuat cup cake bersamamu” kata kakak Cerry, dengan mata sedikit berkaca-kaca. Kemudian aku pergi ke makam Cerry dan mendo’akannya agar dia tenang di alam barunya.
            “Cer, namamu telah ku kenang dan ku abadikan di sini. Di bawah pohon ini kubuatkan bangunan indah yang akan menjadi tempat bisnis cup cake kita. Sekarang aku sendiri, tetapi itu hanya secara fisik, karena secara batin, bayanganmu akan selalu bersamaku, kenangan-kenangan yang pernah kita buat tidak akan dapat kulupakan dan sekarang cup cake JiCiy ini kuubah menjadi “Cerry Cake”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 

my lonely cupcake Copyright 2009 Sweet Cupcake Designed by Ipiet Templates Image by Tadpole's Notez